Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2012

bertobatlah sebelum jadi d0S4 !!

Saya kadang salut sama mereka yang mengetik entah itu sms atau status di jejaring sosial dengan huruf BESAR-kecil-BESAR-kecil dengan selipan 4n9k4 sebagai pengganti huruf(kita menyebut mereka 4L4Y). Mengetik dengan model seperti itu butuh keahlian dan kesabaran, menurut saya. Dulu saya pikir, ini hanya akan berlaku di dunia per-sms-an, tapi seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi..,model”BESAR-kecil-BESAR-kecil” ini pun merambah jejaring social. Nah, akhir-akhir ini di pikiran saya sering muncul pertanyaan “setelah ini, apalagi??”. Mengingat dan menimbang kaum 4L4Y ini kebanyakan masih remaja dan usia sekolah, jika mereka tidak segera resign dari dunia 4L4Y (sebenarnya saya ingin menyebutnya tobat, tapi saya sadar 4LAY bukan dosa) saya tidak sedikit tersenyum membayangkan bagaimana mereka sepuluh atau lima tahun yang akan datang. Di tahun-tahun akan datang, mereka akan lulus kuliah dan jadi pencari kerja. Pikiran saya tidak terlalu jauh memikirkan bagaimana merek…

jidat saya korbannya

Dan masih soal lagu. Dan saya masih yakin kalau lagu itu adalah cerita yang diberi nada. Karena lagu adalah cerita, kita yang mendengarnya pun jadi mengerti “jalan cerita” lagunya. Tapi kadang-kadang, ada juga lirik lagu yang bahkan sampai berkali-kali mendengarnya saya tidak juga paham ceritanya. Tiap mendengarnya, setidaknya jidat saya berkerut, bertanya apa maksud lagu itu?? Kenapa lagunya harus seperti itu? Ini dia, beberapa tersangka di balik berkerutnya  jidat saya :
Hijau Daun –suara (kuberharap)
Disini aku masih sendiri
Merenungi hari-hari sepi
Aku  tanpamu
Masih tanpamu

Bila esok hari datang lagi
Ku coba untuk hadapi semua ini
Meski tanpamu meski tanpamu

Bila aku dapat bintang yang berpijar
Mentari yang tenang bersamaku disini
Ku dapat tertawa menangis merenung
Di tempat ini aku bertahan

Reff:
Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya


Kalau ku masih tetap disini
Ku lewati semua yang terjadi
Aku menungg…

me vs vokalis

LAGU. Ada kalanya sikap kita biasa aja sewaktu mendengar sebuah lagu. Tapi ada kalanya, kita tersenyum atau bahkan sedih karena mendengarnya. Mungkin karena lagu itu seolah berbicara, dan kita memahaminya sampai kita pun tersenyum atau cemberut(tergantung lagunya membicarakan apa). Mungkin juga karena “lagu yang seolah berbicara” inilah yang membuat saya juga seolah ingin berantem waktu mendengar lagu Ada Band-Izinkan, beberapa waktu lalu. Liriknya seperti ini: Memang dunia kita berbeda Di sekitar juga tak mengizinkan Caci maki yang kau terima Ku tak dapat membendung semuanya Cinta kita harus berakhir Terlambat diriku kenal dirimu Aku sudah ada yang punya Hentikan sedihmu, lupakan diriku Izinkanku berikan peluk terakhir Izinkanku berikan senyum terakhir Jangan engkau menangis tersedu lagi Kenanglah semua di lubuk hatimu
Ada beberapa bagian lirik di lagu ini yang sepertinya mengundang niat berantem saya. Akan saya tunjukkan, sekalian dengan lirik tandingannya. Memang dunia kita ber…

saya dengar lagu itu dari radio

Sejak beberapa tahun lalu, sewaktu masih kuliah saya jadi begitu suka mendengarkan radio. “Dengar radio” jadi rutinitas saya, menyertai rutinitas yang lain. Bangun pagi, sebelum berangkat kuliah, sehabis pulang kuliah, sambil kerja tugas(yang ini kadang-kadang, dulu mahasiswa malas soalnya), dan sebelum tidur. Saya tidak hanya mendengar, saya bahkan jadi pendengar yang aktif. Saya ikut request lagu juga. Request lagu favorit, nyamperin (say hi) teman di udara, dan tentu saja nyamperin penyiarnya (berlaku hanya jika sang penyiar suaranya bagus dan lucu). Tapi belakangan saya baru sadar klo “perihal dengar radio” itu kadang mirip dengan “perihal jatuh cinta” Alasan saya begini: Dengar lagu karena kita sudah request lagunya. Kita suka lagunya, request, trus lagunya diputar deh buat kita. Jatuh cintapun begitu. Kita jatuh cinta, dan gayung pun bersambut.Kadang kita mendengar lagu yang kita suka dari radio, tapi lagu itu diputar bukan buat kita, tapi tidak ada hukum yang melarang…

tekun berdoa / memaksa Tuhan ???

Semua orang pasti pernah berdoa. Ada yang terkabul, ada yang tidak terkabul, tapi ada juga yang harus menunggu lama sampai akhirnya doanya dikabulkan. Nah, pikiran saya tergelitik karena hal yg ketiga. Benar jika doa itu butuh usaha yang keras, dan mungkin jg waktu yang lama agar ia bisa terkabul. Tuhan ingin melihat kesungguhan kita, dan mungkin juga Ia ingin menguji kesabaran kita, atau bahkan Tuhan ingin menguji iman kita.
Tapi, saya kadang merasa..,jika doanya itu-itu terus, dalam waktu yang lama pula…,tidakkah kita merasa sedang berusaha memaksa Tuhan ??? Pikiran saya “mungkin saja dari awal keinginan kita tidak sejalan dengan kehendak Tuhan, tapi karena kita terus saja meminta (mungkin saja merengek) maka Tuhan pun iba, dan Ia mengabulkan doa kita”.
Mungkin saja Tuhan sudah bosan, mendengar kalimat doa yang itu-itu saja, Tuhan jenuh dengan sikap merengek kita, makanya Ia mengabulkan keinginan kita.
Sama halnya jika kita menginginkan sesuatu dari seseorang, maka kit…