Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2013

BBM

Ricuh lagi soal kenaikan harga BBM. Saya sih bukan ekonom ya, jadi kurang ngertilah dengan hitung-hitungan untung-ruginya. Kalau pemerintah merasa sudah seharusnya menaikkan harga BBM, ya saya sih setuju-setuju aja (klo pun gak setuju gak ngaruh juga). Setuju atau tidak, ya emang harus ikut dengan keputusan itu. Yaaa…besar hati aja karena BBM.
Besar hati sih besar hati, tapi klo mikir imbasnya, jadi prihatin juga dengan isi dompet kelak. BBM naik harga pasti tidak sendiri, harga barang-barang lain pasti menyusul. Dan saya rasa, pemikiran seperti ini seragam di otak rakyat kecil. Apalagi yang tidak punya kendaraan seperti motor dan sehari-hari bergantung dengan kendaraan umum, bakal lebih berat ya ?? Biaya transportasi ke kantor bertambah, setelah itu biaya-biaya lain, tidak terkecuali biaya kencan. Tapi klo soal biaya kencan, tergantung kita ada di pihak mana. Di pihak dibayarin atau yang ngebayarin. Dibayarin sih enak, pihak sebelah-lah yang merana sendiri. Tapi klo bayar angkotnya le…

2 kata

Seberapa sering kamu mempertanyakan hal-hal yang sepertinya tidak punya jawaban mutlak ?? Itulah hidup. Iya..,itulah hidup. Dan pertanyaan itu akan selesai (tanpa terjawab) dengan jawaban “itulah hidup”. Kita sering telah berpanjang lebar membahas sesuatu, berusaha “memecahkan” tapi saat semua jalan seperti sudah tidak mungkin, kita akan berhenti begitu saja dengan mengatakan “inilah/itulah hidup”. 
Itulah hidup. Banyak hal yang sepertinya bisa selesai dengan dua kata ini. Saat mulai menyerah dan pasrah dengan keadaan, dua kata ini kadang jadi alasan untuk berhenti berusaha. “Itulah hidup” = terima nasib, besar hati, dan sabar. Tidak ada yang salah dengan “menyerah”, terima nasib, besar hati, dan sabar. Kadang kita memang memilih mengambil sikap-sikap itu. (lagi-lagi) itulah hidup.
Tak terkecuali saya..,sayapun sering menjadikan dua kata ini sebagai senjata pamungkas saat saya tidak lagi punya semangat untuk berusaha, atau bahkan sekedar mencari tahu. Dulu saya pernah bertanya kepada di…

Anak Kost punya cerita ....

Lagi-lagi ini cerita saya yang dimulai dari lingkungan sekitar kost saya.
Sebagaimana lazimnya daerah yang banyak rumah kostnya, di dekat kost-an saya juga ada beberapa warung. Setidaknya ada 3. Ketiga warung ini bergerak di bidang yang sama dengan kata lain jualannya mirip. Yaaaa….,tidak jauh dari lauk-pauk, mie instan, roti-rotian, rokok, dan teh-teh-an . Meskipun jualannya nyaris sama, tapi tetap saja ada hal yang membedakan ketiga warung ini.Hal yang membedakannya adalah “perilaku” ibu-ibu empunya warung. Yapp…, secara tidak sengaja saya mengamati orang-orang yang menjalankan usaha warung ini (kurang kerjaan sih..,tapi ya sudahlah! Namanya juga anak kost !! Baiklah, saya akan mulai memaparkan hasil pengamatan “super penting” ini.
Warung pertama
Paling dekat. Secara tampilan fisik, ini yang paling oke. Sayang…,wajah yang oke tidak pernah jadi alasan saya untuk belanja di warungnya. Kurang ramah. Saya jarang melihat senyumnya. Klo belanja di warungnya, kita akan dengan mudah menemukan a…