Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Luka

Aku pernah berharap kepada hujan
memimpikan engkau dibasuhnya
Hanya mimpi !!
Aku pernah berbicara kepada angin
memintanya membawamu terbang
tapi angin tak cukup kuat
Aku pernah memohon kepada matahari,
agar engkau dibuat kering dan tak lagi tumbuh,
tapi matahari tak cukup panas buatmu
Sekarang aku tertunduk, menyerah kepada waktu
Semoga saja ia iba,
lalu membalutmu dengan perban yg kusebut "lupa"
Luka....,
Segeralah kau sembuh,
Agar alasanku tersenyum bertambah satu !!

Hujan

Aku menyukai dinginmu
Tidak harus melihat dan menyentuhmu untuk menyadari kedatanganmu
Aku mengenali bahkan suara terhalusmu
Iya, kamu sepaket dengan dingin
Tapi bukankah sudah terlalu lama kamu disini??
Pergilah sebentar saja,
Ada yang menunggumu di belahan bumi yang lain
Lalu kembalilah malam nanti
Tapi jika kamu kembali dan mendapatiku tertidur,
Bukan karena aku tidak menunggumu
Aku hanya sedikit lelah
Datang sajalah lagi,
Seperti malam-malam sebelumnya

Lupa

Ada fase di dalam kehidupan di mana kita mengalami hal yang tidak enak dan saking tidak enaknya kita ingin melupakan hal yg tidak enak tersebut atau bahkan orang-orang yang punya peran sehingga hal tidak enak tersebut terjadi. Berhasilkah ?? Mungkin iya!!  Mudahkah??  Mungkin jg iya,  tapi saya rasa akan banyak yg mengalami kesulitan dalam fase melupakan ini. Begitu sulitnya, sampai ada yg gagal bahkan berkali-kali.
Apa yg membuatnya gagal??  Entahlah!!  Usaha sudah keras, niat apa lagi, lalu kenapa masih juga gagal??  (lagi-lagi) entahlah!! Malahan usaha yg demikian kerasnya justru lebih sering berbanding terbalik dengan hasilnya. Seperti kata Parachute di lagu Hurricane " Oh funny how it all comes backWhen you’re trying to forget it". Yapp.., hal ini selalu terjadi. Solusi ??? Belum ketemu :-)
Yaahh, sambil mencari solusi kita sepertinya perlu memahami bahwa perkara melupakan itu kadang seperti poni yg salah potong dan hasilnya gak cocok sama yg empunya poni, lalu sang e…

aneh

Ini bukan cerita mistis yg lazim orang-orang sebut dengan keanehan. Ini hal "aneh" yg lain,  tentu saja menurut saya.
Dalam hidup orang-orang lajang yg sudah (katakanlah) cukup umur.., akan selalu punya peluang jika bertemu dengan orang lain untuk ditanyai " kapan menikah??" .., dan mungkin jg " kenapa belum menikah??". Sungguh pertanyaan yg sebaiknya dijawab dengan senyum saja. Yaapp..,  cukup dengan senyum karena mungkin ini adalah pertanyaan basa-basi.
Lalu bagaimana jika ternyata pertanyaan soal menikah ternyata bukan basa-basi??  Jawaban tetap sama : senyum.
Iya..., menjadi orang yg tidak/belum menikah seperti sepaket dengan kewajiban tersenyum saat orang lain membahas soal pernikahan. Senyum dan bahkan lebih sabar..,  apalagi saat orang-orang tidak berhenti di sekedar bertanya tapi mulai naik kelas jadi meremehkan, dan menggunjing di belakang. Dan inilah yg saya sebut aneh. Tidak menikah atau telat menikah entah kenapa harus dipandang sebagai ses…