Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

(bukan dongeng) Asal-usul ....

Membuka dan memantau akun media sosial adalah menu cuci mulut makan siang, di tiap jam istirahat makan siang. Saya rasa bukan hanya saya saja yang melakukan hal ini. Saya tidak perlu meminta tunjuk tangan, kan untuk tahu kalau saya tidak sendiri ?  Nah.., di suatu siang yang terik, sehabis makan siang, kebiasaan menikmati menu cuci mulut pun  dimulai. Waktu itu saya buka twitter. Tiba-tiba saya tersenyum liat retweet-an teman. Saya tersenyum bukan karena isinya, saya tersenyum karena membaca username dari orang yang tweet-nya teman saya retweet. Namanya itu pake embel-embel "taingongo". Yapp, tai ngongo' / tengongo' / upil. Saya tidak membayangkan bagaimana lucunya orang yang memakai kata tengongo', pikiran saya terarah kepada "bagaimana orang-orang di Sulawesi Selatan ini menggunakan tengongo' untuk menyebut upil, atau kotoran hidung?". Saya besar di Toraja, dan sedari kecil saya terbiasa dengan kata tengongo'. Di Makassar pun begitu. Saya jad…

Sakitnya tuh di sini *tunjuk kuping*

Beberapa hari ini saya punya kesempatan beberapa kali untuk mendengar lagu dangdut yg liriknya seperti ini "sakitnya tuh di sini di dalam hatiku, sakitnya tuh di sini ....blablabla". Saya tidak tahu yg nyanyi siapa, tapi kurang lebih lirik lagunya seperti itulah. Kata-kata di lirik lagu itu dulu(dan sampai sekarang) sering sy temui di jejaring sosial lewat meme tentunya, yg tentu saja pula mengundang senyum. Taaaaaapi..., ketika kata "sakitnya tuh di sini" berubah jadi lagu, bukan senyum lagi yg sy keluarkan. Mendengar lagu ini, malah mempertegas garis-garis keriput di wajah sy. Lagu ini memunculkan pertanyaan dalam hati sy "ini yg bikin lagu, niat bikin lagu gak sih???". Pertanyaan ini tentu tidak harus dijawab oleh pencipta lagunya karena tentu saja mencipta lagu itu awalnya dari niat. Iyah, pertanyaan seperti ini hanya akan muncul ketika sy mendengar lagu yg menurut sy gak banget. Dulu, sy sering menanggapi banyak lagu yang "waktu itu" menur…