Kenangan Ramadan Seseorang Yang Tak Berpuasa

"Sarti, mana tulisan Ramadanmu?” tanya kak Lebug, salah satu pendamping kelompok saya di Kelas Menulis Kepo.

Sebenarnya  saya bingung saat hendak menulis tentang Ramadan. Sebagai penganut agama Kristen, saya tidak memiliki pengalaman berpuasa saat bulan Ramadan. Apalagi saya besar di daerah yang penduduknya kebanyakan beragama Kristen. Ge’tengan, sebuah kampung kecil di kecamatan Mengkendek, kabupaten Tana Toraja.

Penduduk Ge'tengan mayoritas beragama Kristen. Dari keseluruhan penduduk yang tercatat sebagai jemaah di satu-satunya masjid di kampung saya sekarang hanya 95 keluarga. Meskipun penduduknya mayoritas beragama Kristen tetap saja ada perubahan yang terjadi saat Ramadan tiba. Ingatan masa kecil saya menayangkan kembali perubahan-perubahan itu. Masa di mana jumlah jemaah di masjid Ge'tengan belum mencapai angka 95 keluarga.

Perubahan yang saya maksud berbeda dengan perubahan yang terjadi di Makassar. Warung makan tetap buka pada waktu siang. Bahkan warung yang pemiliknya muslim dan berpuasa sekalipun, juga tetap dibuka di bulan Ramadan.

Jangan harap kita bisa menjumpai penjaja takjil di pinggir jalan. Pun spanduk atau baliho politisi dengan ucapan selamat berpuasa. Apalagi ucapan selamat berpuasa yang disertai #TorajaBertobat seperti baliho #MakassarBertobat itu.

Perubahan pertama yang saya rasakan saat Ramadan dulu adalah jam pelajaran di sekolah yang dikurangi. Pulang sekolah lebih cepat dari biasanya. Yess!

Saat saya SMP (lupa kelas berapa, sepertinya kelas dua) kebijakan pulang lebih cepat malah meningkat jadi libur sebulan penuh selama Ramadan. Libur Ramadan sebulan, libur sehabis ulangan caturwulan, ditambah libur natal dua sampai tiga minggu. Anak sekolah di Toraja dapat libur lebih banyak. Yess! (Lagi)

Sayangnya kebijakan libur sebulan selama Ramadan tidak bertahan lama. Seingat saya hanya berlaku dua kali Ramadan. Sewaktu duduk di bangku SMA, libur Ramadan tidak lagi sebulan. Libur hanya di minggu pertama dan terakhir Ramadan. Dua minggu pertengahan Ramadan sekolah tetap berjalan, tapi dengan sepuluh menit pengurangan untuk setiap jam pelajaran. Pulang sekolah tentu saja jadi lebih cepat

Yang kedua: saat berbuka. Tidak jarang rumah kami kedatangan tetangga yang membawakan kue atau kolak, atau makanan lain. Jumlah makanan yang mereka bagi akan lebih banyak (dan biasanya makanan berat) saat tetangga kami mendapat tugas untuk menyiapkan hidangan buka puasa di masjid. Kebiasaan seperti ini masih berlaku hingga sekarang.

Dua malam yang lalu saat Ibu menelpon saya, terdengar suara adik saya memotong pembicaraan kami “Ada mieku. Enak.”

Saya bisa menebak jika mie yang adik saya maksud adalah makanan buka puasa dari tetangga.

“Oo.. ma’pabuka Nek Caca?” saya menebak jika hari itu tetangga(yang juga kerabat) di depan rumah kami bertugas untuk menyiapkan hidangan buka puasa di masjid.

Adik saya lalu menggantikan Ibu berbicara dengan saya.

“Bukan, pa’bukanya Mama Zul,” dia menjelaskan jika mie itu bukan dari tetangga depan rumah

Dia juga mengatakan jika hari itu sebenarnya mereka mendapat mie dan la’pa’, kue yang terbuat dari singkong parut yang dicampur gula merah dan kelapa parut, lalu dikukus setelah sebelumnya dibungkus pisang.
 
Ketika adik saya mengirimkan gambar hidangan buka puasa pemberian tetangga, dia hanya bisa memberikan foto ini. "Mie sudah habis," katanya.
Kusanga Nek Caca ma’pabuka,” kata saya yang baru saja salah tebak.

Terdengar suara ibu saya. “Tanggal dua ri Nek Caca,” saya jadi tahu jika tetangga depan rumah kami akan menyiapkan hidangan buka puasa di masjid tanggal 2 Juli nanti.

“Tanta Ade tanggal 20,” adik saya menyebutkan jadwal tetangga kami yang lain lagi.

Rupanya Ibu dan adik saya tahu kapan tetangga bertugas menyiapkan hidangan buka puasa di masjid.

Ketiga : lari pagi. Sejak SD beberapa kali saya janjian dengan teman-teman untuk lari pagi saat bulan Ramadan.  Kegiatan lari pagi jadi lebih hidup saat Ramadan dan lebih banyak dilakukan oleh anak-anak dan remaja. Yang muslim biasanya bergerak pertama. Menjemput atau bahkan membangunkan orang-orang seperti saya yang tidak memiliki kewajiban bangun subuh. Sayangnya saat teman datang menjemput, saya lebih sering bangun hanya untuk membatalkan janji kemudian melanjutkan tidur.

Lari pagi tidak dilakukan di dalam kampung, tapi di jalan poros Makassar-Toraja. Kondisi kampung yang berbukit membuat orang-orang memilih turun ke jalan poros, jalan yang lebih datar.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat membahas masa lari pagi ini dengan salah seorang teman saya. Teman saya itu lebih rutin ikut lari pagi. Dia mengingatnya dengan mengatakan bahwa waktu itu Kak "itu" pacaran dengan Kak "itu", Kak "ini" pacaran dengan kak "ini".

Teman saya juga mengatakan bahwa momen lari pagi jadi kesempatan bertemu salah seorang anak dari kampung kami dengan pacarnya yang berasal dari kampung tetangga. Kata teman saya “kampung Ge’tengan ketemu kampung Minanga. Selain itu teman saya juga mengatakan, sehabis lari pagi biasanya mereka ke masjid untuk bermain tenis meja atau membersihkan
 
Karena sudah lama meninggalkan kampung, saya tidak tahu apakah kebiasaan lari pagi saat Ramadan masih bertahan hingga sekarang. Satu yang pasti, pasangan-pasangan yang teman saya sebutkan di atas tidak bertahan hingga sekarang. Mereka masing-masing sudah berjodoh dengan orang lain.

Komentar

Mukhsin Pro mengatakan…
Suasananya pasti selalu berbeda dengan bulan-bulan lainnya.

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Tetangga

Anak Kost (masih) Punya Cerita

Asap Rokok Bau Sate, Kenapa Tidak?