Selamat Ulang Tahun, Tetangga!

 
sumber gambar : www.digaleri.com
Baru beberapa menit berlalu dari pukul 20.00 tapi mata saya sudah mengantuk. Saya memutuskan untuk tidur saja meskipun tidur sebelum pukul sembilan malam bukanlah kebiasaan saya. 
 
Saya lalu berdiri untuk segera menutup pintu kamar dan jendela yang sejak tadi saya biarkan terbuka. Di dekat pintu saya melihat halaman kost gelap, lampu teras tidak satupun yang menyala. Suara tetangga-tetangga kamar yang biasanya masih bercanda di luar di waktu seperti ini juga tidak terdengar.

“Ke mana anak kost?” tanya saya dalam hati sambil mendorong pintu kamar.

Pintu kamar saya belum tertutup sempurna, tiba-tiba terdengar teriakan“Enci, ke sini ko!”

Saya tidak jadi menutup pintu. Saya lalu berdiri di depan pintu yang masih setengah terbuka. Saya mengarahkan pandangan ke sebelah kanan kamar. Saya yakin teriakan tadi berasal dari arah sana. Benar saja, terlihat seorang gadis berdiri di depan kamar yang letaknya dua kamar dari kamar saya. Meskipun agak gelap, saya bisa tahu jika gadis yang berdiri di sana adalah salah satu penghuni di kost-an saya

Kembali gadis itu memanggil nama yang sama. Saya lalu mengarahkan pandangan ke depan. Terlihat seorang gadis lain berjalan mendekat. Enci. Pemilik nama yang sedari tadi diteriakkan.

Bukannya makin mendekat, orang yang dipanggil ini malah menghentikan langkahnya. Kemudian terdengar tawanya begitu keras. Ia terlihat membungkuk sambil memegang perutnya dan terus saja tertawa.

Saya tidak mengerti kenapa tawa itu demikian kerasnya hingga akhirnya saya melihat ada banyak lilin yang menyala di halaman kost. Setelah melihat keberadaan lilin di halaman, saya baru menyadari bahwa penghuni kost ini tidak ke mana-mana. Hanya karena lampu teras yang (mungkin) sengaja dimatikanlah hingga saya tidak menyadari keberadaan mereka.

Oh..surprise pale,” gumam saya.

Kemudian terdengar perintah salah satu anak kost “Musik, musik!”

Tidak lama kemudian terdengarlah lagu Selamat Ulang Tahun milik Jamrud, entah dari kamar yang mana. Lagu Jamrud seakan mengiringi si target surprise yang tidak bisa menghentikan tawanya.

Kembali saya mengarahkan pandangan ke lilin di halaman.  Entah dari mana datangnya ataukah saya yang tidak memerhatikan sejak tadi, di dekat lilin itu berdiri seorang laki-laki. Mungkin hanya butuh sedetik untuk saya menyadari bahwa laki-laki itu juga salah satu dari penghuni kost kami. Ia berdiri menghadap ke target sambil memegang kotak berisi kue, dan lilin-lilin menyala di antara mereka.

Orang yang diberi surprise ini terus saja tertawa keras. Sejenak ia berhenti lalu berkata “Kenapa I love you?”

Saya tidak mengerti pertanyaan ini. Saya kembali mengamati sekitar kost. Terlihat ada yang mengambil gambar, yang lain lagi bernyanyi bersama Jamrud.

Pertanyaan yang sama terulang lagi “Kenapa i love you?”tentu saja masih diikuti tawa yang keras.

Pandangan saya kemudian tertuju pada lilin-lilin yang masih menyala itu. Setelah saya perhatikan, ternyata lilin-lilin telah diatur membentuk kalimat ‘I LOVE YOU’. Setelah membacanya, saya hanya berani tersenyum. Biarlah tertawa hanya menjadi hak bagi orang di mana ‘I LOVE YOU’ ini ditujukan.
 
Saya lalu bertanya kepada salah satu anak kost, penghuni kamar yang letaknya tepat di sebelah kanan kamar saya. Ia juga menyaksikan kejadian ini dari depan kamarnya sambil tersenyum-senyum.

“Eh.. itu sambil tembak-tembakan, ya?”

“Begitu mi anak jaman sekarang, terpengaruh film-film,” jawabnya sambil tersenyum. 

Mendengar jawaban itu saya ikut tersenyum. Saya lalu masuk ke kamar tanpa harus mendapat jawaban pasti atas pertanyaan barusan. Saya bahkan tidak ikut mengucapkan selamat ulang tahun.

Dari luar masih terdengar lagu Jamrud. Di dalam kamar saya menebak-nebak apakah yang di luar itu akhirnya pacaran atau tidak. Ah, mengantukku hilang!

Tidur sebelum pukul sembilan malam memang bukan kebiasaan saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Tetangga

Anak Kost (masih) Punya Cerita

Asap Rokok Bau Sate, Kenapa Tidak?